Ramai-Ramai Dukung Pelaku Koruptor
Di negeri yang katanya menjunjung tinggi keadilan dan transparansi, kini sedang marak tren baru: ramai-ramai mendukung pelaku koruptor. Tak tanggung-tanggung, dari pejabat, selebritas, hingga warga biasa, berlomba-lomba menunjukkan simpati kepada mereka yang sudah terbukti merampok uang rakyat.
Sudah divonis bersalah? Tak masalah. Yang penting “orangnya baik”. Sudah bikin negara rugi miliaran hingga triliunan rupiah? Gampang, tinggal bilang “itu khilaf”. Tak heran, begitu satu pelaku korupsi ditangkap, justru yang ramai adalah dukungan, bukan kecaman.
Media sosial pun ikut meriah. Tagar dukungan muncul, lengkap dengan video menangis haru, seolah-olah si pelaku sedang jadi korban peperangan, bukan pelaku kejahatan keuangan. Bahkan tak jarang keluarga dan kolega sang koruptor muncul di media, memohon “pengertian masyarakat”. Lucunya, saat rakyat minta pengertian soal harga beras dan BBM, mereka semua mendadak hilang.
Tak jarang, Lembaga hukum juga Kadang malah ikut-ikutan “paham”. Vonis ringan, potongan masa tahanan, dan fasilitas mewah di penjara seakan jadi bonus karena “jasanya di masa lalu”. Mungkin sebentar lagi, akan ada penghargaan “Koruptor Terfavorit” di ajang televisi nasional.
Fenomena ini mengajarkan satu hal penting: kalau ingin jadi pahlawan di negeri ini, cukup jadi koruptor yang punya banyak teman, popularitas, dan kuasa. Jangan repot-repot kerja jujur dan bersih, karena yang jujur biasanya malah dituduh cari muka atau dianggap tidak solid.(Red)
