Puisi : Sanubari Gadis Perawan

Setiap hari gadis perawan itu meracik puisi.
Dihirupnya bumbu jiwa dengan berbagai macam aroma.

Wangi bibirnya menyerupai harum tembakau!

Bisa kelewatan bahaya pun gampang memukau

Lidahnya mengecap getir dendam,
Hidungnya mencium asam penghianatan.
Disekap bungkam atas nama kesopanan.
Siapa sangka tangannya bau penderitaan.
Menyeka air mata dari orang-orang yang dipercaya.

Tajam pandangnya menyaksikan kepalsuan di depan mata.

Tetap saja tersenyum seolah tak tahu apa-apa

Padahal, jiwanya berontak belum merdeka
Pura-pura dicinta sebab persis bekas pujaan hatinya, ternyata.

Alibi menawarkan uluran tangan supaya sembuh bersama.
Lantas?

Untuk apa sembuh jika hanya akan ditinggalkan begitu saja?

Banyak kepala menduga gadis itu tak cukup satu pria

Ramah tamah dianggapnya mudah dijamah
Tentu tak satu priapun berhasil meninabobokannya

Terbiasa dipandang sebelah mata.

Jelas-jelas tercermin kebebasan dari tintanya

Liar dan enggan patuh pada apa-apa
Apalagi sekedar pria penggoda.
Cuih.

Mimpinya sangat besar menjadi penyebar tulisan nakal berbalut tauladan
Meski setiap hari telinganya berusaha menuli dari maki-maki

“Orang-orang tidak butuh puisi di jaman ini! Hiduplah nyata dan berhenti membuat lakon fiksi”
Sialan.

Penulis : Anisatul Azizah
Bengkulu, November 2023

Leave A Reply

Your email address will not be published.